Pos

Puisi - puisi Saya yang Tak Jadi Terbit Karena Kiamat Tak Jadi

Gambar
Oleh Mohamad Tohir
INI adalah puisi - puisi yang pernah saya tulis beberapa tahu lalu. Sejak saat itu tidak pernah lagi menulis puisi. Menulis puisi bagiku saat ini adalah seperti berak di masjid. Entah kenapa. Kuposting di sini sebagai pengingat bahwa saya adalah penista agama, yang jauh lebih menyebalkan ketimbang Ahok.
Semoga Anda membenci saya:

















PLATONIK Eka bertemu kembali dengan Agung sore itu Pada detik awal, mereka beku Dan leleh saat tiga cangkir teh tiba di meja “Dia temanku di pesantren,” Eka berkata pada suaminya yang tengah menyulut kretek Anak Eka menggelayut di kakinya Dan mereka sama – sama tahu meski tak serumah dan saling sapa, getaran di tengkuk Eka tak akan sirna Tak ada yang lebih besar dari cinta yang tak bersatu, sebab tak terbagi 2011 LELAKI BERMATA SATU Beberapa bulan lalu, lelaki bermata satu berjalan tertatih menapaki jalan setapak penuh belukar Di balik belukar itulah Jakarta Telah dihabiskannya sepanjang masa berkabung setelah anak dan istrinya dibantai di malam gerimis it…

Saijah dan Adinda, Bukan Romansa yang Picisan

Gambar
Catatan Pendek Pentas Teater Bajing Ketapang   Oleh Mohamad Tohir “Saijah..! Saijah....! Maafkan aku Saijah! Aku pergi ke Lampung, Saijah.” PASASE di atas adalah kalimat yang keluar dari mulut Adinda saat pergi dari kampung Badur menuju Lampung meninggalkan kekasihnya, Saijah, yang baru pulang merantau dari Batavia. Pemeran Adinda bermain begitu menjiwai. Dengan suara parau dan isak tangis, Adinda mampu membuat sebagian penonton merasa sesak dada dan iba. Saijah dan Adinda adalah sepasang kekasih, tokoh romantik dalam naskah pertunjukan kolosal Bajing Ketapang karya Oky Dwi Cahyo, seorang seniman muda asal Kelurahan Jetak.  Pertunjukan ini digelar oleh BEM Sekolah Tinggi Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKes ICsada) pada malam Minggu lalu (04/03/2017) di gedung Tri Dharma Bojonegoro. Bajing Ketapang sendiri merupakan adaptasi dari novel Max Havelaar karya Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang asisten residen di Lebak, Rangkas Bitung, Banten pada zaman kolonial Belanda. Novel…

Binangun dan Ceceran Ingatan tentang Kata

Gambar
Oleh Mohamad Tohir BEBERAPA hari yang lalu, saya bertandang ke Binangun. Ya, Binangun. Entah mengapa saya sangat suka menyebutnya Binangun. Bukan pondok, ponpes, atau apalah apalah. Binangun bagi saya adalah kata yang puitis. Seperti kata lainnya; Langitan, Pethuk, Mranggen, Sarang, Kajen, Siguluk Guluk, Paiton, Tanggir, Gomang, dan lain sebagainya. Kata – kata itu sama – sama memiliki semacam kuasa untuk mengalahkan makna – makna lainnya. Paiton bisa saja bermakna banyak hal, tapi ternyata orang segera tahu, Paiton berarti Pesantren Nurul Jadid. Begitu kurang lebih maksud saya. Entah mengapa saya bahagia sore itu, begitu tahu bahwa kegiatan rutin alumni Pesantren al-Hikmah adalah di Binangun, di rumah Abdul Aziz, kakak teman sekelas saya, Siti Rohmah (Saya selalu memanggilnya Mbak Rohmah, sampai sekarang). Saya lama tak ikut, dan jarang ikut. Dulu saat yang ikut orang – orang tua, saya mencoba untuk mengawali sebagai perwakilan kaum muda. Saya datang bersama Bambang saat itu dan jarang…

Perkawinan Orang – Orang Melarat

Gambar
Oleh Mohamad Tohir Perkawinan Orang – Orang Melarat, Lima Cerita, lengkapnya begitu, adalah judul buku saya. Maaf, baru rencana. Rencana buku. Judul sudah ada, sampul juga sudah ada, ISBN juga sudah. Tapi isinya belum. Entahlah, barangkali ini sebuah hiburan bagi saya. Hiburan yang menyenangkan sambil menertawakan diri betapa konyolnya saya. Mendaku sebagai penulis tapi tak memiliki buku. Buah! Apa coba kalau bukan tulang kibul namanya, penipu, dst... Saya beberapa kali melakukan ini. Selain Perkawinan Orang – Orang Melarat, saya coba sebutkan; Tol (novel), Sebuah Novel yang Belum Pernah Kau Baca (novel), Memori yang Tertinggal di Kobuku (novel), Cerita Orang – Orang Tua (kumpulan features), dan satu lagi yang tidak saya sebutkan di sini sebab hanya saya tulis untuk satu orang saja. Hal itu saya lakukan tentu saja bukan tiba – tiba. Ceritanya, pada pertengahan 2012 lalu saya ketemu dengan Gola Gong, penulis yang nama sebenarnya entah siapa itu. Dia di Surabaya saat itu, hadir dalam sebuah…

Mengapa Buku Harus Dibaca?

Gambar
Oleh Mohamad Tohir SELEPAS mengikuti diskusi kemarin, saya jadi ingin membaca Ruang Inap Nomor 6. Penyaji dalam diskusi kemarin, Tulus Adarrma, berhasil memengaruhi saya untuk ingin membaca karya penulis cerita tentang orang-orang gila ini. Memang saya telah membaca karya Chekhov sebelumnya, beberapa cerita pendek. Dan semua cerita pendek karya Chekhov yang saya baca, selalu membuat saya tertawa. Dari cerpen-cerpen Chekhov yang saya baca itu, membuat saya terburu-buru menyimpulkan bahwa Chekhov ini pembuat cerpen lucu. Padahal, tidak sepenuhnya demikian. Seperti kata Tulus, cerpen-cerpen Chekhov yang lucu-lucu itu ditulis dalam fase belum matang. Karya Chekhov yang ditulis di fase matang di antaranya adalah 7 karya dalam buku kumpulan cerita pendek Ruang Inap Nomor 6 itu. Tentu ngisin-ngisini bukan? Saat Tulus merasa iba dan bergetar membaca karya Chekhov, eh saya malah tertawa. Pasti ada yang nggak benar dengan pikiran saya, atau hati saya yang sudah mengeras. Saya jadi merasa seperti o…

Pemanah Hebat Bukan Hanya Arjuna

Gambar
OLEH MOHAMAD TOHIR

SELAMA setahun lebih saya tak mengisi blog ini. Tapi bukan berarti saya tak menulis sama sekali. Sebagai seorang pengarang yang belum berhasil, tentu tidak menulis merupakan dosa besar. Saya telah menulis beberapa cerpen, surat, dan puisi (hehehe). Beberapa jadi, beberapa setengah jadi, beberapa hanya judulnya saja atau kalimat awalnya saja. Semua ada di laptop saya. Langkahi mayat saya kalau ingin membacanya. Hanya saja persoalan menulis tentu bukan saja sekadar merangkai kata – kata belaka. Ada proses panjang yang melatarbelakangi, mengikuti dan melingkupinya. Artinya, tulisan tidak berdiri sendiri sebagai sebuah teks, melainkan terlibat dan melibatkan konteks. Itulah hakikat sebuah tulisan. Sejarah membuktikan, tulisan – tulisan yang dibarengi dengan laku yang penuh tragik kerap kali (untuk tak menyebutnya selalu) menjadi besar. Contoh kecil saja, puisi – puisi Wiji Tukul, yang menurut saya banyak yang tak indah (tanpa membahas lebih dalam makna keindahan), hingga k…

Mengapa Bertemu Pak Soes?

Gambar
Oleh Mohamad Tohir

PEKAN LALU, pada gerimis lembut sore hari, aku ke Blora. Seorang kawan, Rizky Yuwave namanya, mengajakku sowan ke Soesilo Toer, adik Pramoedya, di Jalan Sumbawa 40, Blora.
Awalnya dia bertemu Soes di Perpusda Blora dalam sebuah acara tentang buku. Di sana Soes menawari untuk berkunjung ke Sumbawa 40. Yuwave mengiyakan. Tapi saat hendak berangkat, dia tak punya teman. Dia menghubungiku untuk menemaninya ke Soes. Tapi saat itu aku sedang di Bangilan. Ada teman yang mengundang untuk diskusi soal buku Pramoedya Arus Balik. (Baca : Aku bukan Pramis).
Akhirnya kesepakatan kami buat, minggu depan, hari jum’at, pagi-pagi amat, kami akan berangkat. Tapi sial ternyata, saat hari itu tiba, pagi-pagi amat aku harus ke sawah untuk ngompres kacang hijau, maka jadinya berangkat habis jumatan. Saat khotbah salat jum’at, aku terus-terusan berkhayal bercengkerama dengan Soes. Bercerita macam-macam dan banyak sekali.
Dari kota aku berangkat bersama Khozin Tores, kawanku yang biasa meneman…