Saijah dan Adinda, Bukan Romansa yang Picisan

Catatan Pendek Pentas Teater Bajing Ketapang  
Oleh Mohamad Tohir
“Saijah..! Saijah....! Maafkan aku Saijah! Aku pergi ke Lampung, Saijah.”
PASASE di atas adalah kalimat yang keluar dari mulut Adinda saat pergi dari kampung Badur menuju Lampung meninggalkan kekasihnya, Saijah, yang baru pulang merantau dari Batavia. Pemeran Adinda bermain begitu menjiwai. Dengan suara parau dan isak tangis, Adinda mampu membuat sebagian penonton merasa sesak dada dan iba.
Saijah dan Adinda adalah sepasang kekasih, tokoh romantik dalam naskah pertunjukan kolosal Bajing Ketapang karya Oky Dwi Cahyo, seorang seniman muda asal Kelurahan Jetak.  Pertunjukan ini digelar oleh BEM Sekolah Tinggi Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKes ICsada) pada malam Minggu lalu (04/03/2017) di gedung Tri Dharma Bojonegoro.
Bajing Ketapang sendiri merupakan adaptasi dari novel Max Havelaar karya Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang asisten residen di Lebak, Rangkas Bitung, Banten pada zaman kolonial Belanda. Novel ini telah berusia lebih dari 150 tahun, namun hingga kini masih dibaca dan diperbincangkan.
Melalui Bajing Kepatang ini, penonton seakan disodori versi mudah dari novel setebal 400 halaman yang terkesan sulit dibaca ini. Sebab novel ini ditulis dengan cara yang tidak konvensional serta tidak begitu beraturan. Ada beberapa narator yang saling bergantian dan bertabrakan pada bagian-bagian dalam novel. Otomatis itu kerap membuat pembaca bingung. Dalam pembuka novel ini sendiri disebutkan bahwa pengarang tidak suka berindah-indah dalam menulis. Maka, pementasan Bajing Ketapang bisa disebut sebagai salah satu cara memudahkan orang untuk membaca.
Pertunjukan Bajing Ketapang berdurasi lebih dari 2 jam. Cukup panjang untuk penonton di Bojonegoro yang biasa menikmati tontonan tak lebih dari 1 jam, kecuali konser band tentu saja. Meski demikian, gedung Tri Dharma malam itu dipenuhi lebih dari 500 penonton meski harus membayar tiket.
Kembali tentang Saijah dan Adinda. Dua tokoh ini dikisahkan menjalin hubungan asmara. Mereka bermain bersama sejak kecil dan lambat laun berkomitmen untuk hidup bersama, kawin. Namun Saijah ingin pamit dahulu mengadu nasib ke Batavia. Saijah berjanji akan menemui dan menikahi Adinda saat kembali kelak. Janji mereka diucapkan di bawah pohon ketapang. Di bawah pohon ketapang inilah nantinya mereka akan bertemu kembali.
Bukan Picisan
Naskah Bajing Ketapang, pun Max Havelaar, tentu bukan kisah romantik picisan yang mengutamakan pertemuan dua insan lawan jenis lalu pacaran lalu menikah dan seterusnya. Bukan sekadar itu tentu saja, kalau melihat fakta bahwa novel ini ternyata mampu menghentikan kebijakan tanam paksa atau cultuurstelsel Pemerintah Hindia Belanda pada saat itu. Berkat novel Max Havelaar ini, Pemerintah Belanda menghentikan kebijakan itu karena dinilai telah keluar jalur dari yang semestinya sebab banyak terjadi praktik penindasan dan korupsi, berganti politik etis. Karena diberlakukannya politik etis inilah, akhirnya pribumi (meski tak semuanya), bisa mengenyam pendidikan modern.
Praktik penindasan, kekejaman dan korupsi sudah mengakar kuat, bahkan pada para pejabat atau priyayi pribumi, sehingga menjadikan rakyat kecil sebagai korban. Saijah dan Adinda juga menjadi korban. Mereka tidak bisa bertemu lantaran dirampas hak kebebasan dan hartanya oleh penguasa pada saat itu. Kisah mereka menjadi tragik yang menggugah jiwa. Saijah yang menunggu di bawah pohon ketapang setibanya dari Batavia tak mendapati kekasihnya datang. Bajing-bajing menari menyaksikan pembuktian janji dan penantian Saijah.
Di antara itu, muncul Max Havelaar, asisten residen yang dikenal lurus. Dia tidak setuju dengan perilaku korup dan kejam bupati saat itu. Dia protes, namun kondisi tidak mendukung. Penyelewengan kekuasaan telah menggurita. Cukup berat untuk dilawan seorang diri yang seperti Max Havelaar. Protesnya tidak ditanggapi dan malah mendapat respons dengan suap. Namun Max yang malang menolak dan memilih pulang ke negerinya, Belanda.
Multatuli
Dalam pementasan ini, Multatuli hadir di luar cerita. Dia sebanyak 4 kali muncul untuk memberikan penjelasan kepada penonton, tentang tokoh Max dan ceritanya.
Di awal, Multatuli muncul berdiri menjinjing koper dan mengatakan tentang jati dirinya sebagai penulis Max Havelaar. “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, saya anggap Anda semua tidak hanya sebagai penonton, namun juga sebagai pembaca. Ya, pembaca. Bahwa sayalah Multatuli, yang telah menuliskan hal-hal yang mengusik hati saya, melihat banyak kecurangan, penindasan, dan banyaknya pemerasan yang dilakukan para pejabat-pejabat Belanda dan juga pejabat-pejabat di daerah itu sendiri. Dan semua itu sungguh menyedihkan bagi saya.”
Di tengah, saat adegan Slotering, asisten residen sebelum Max Havelaar, mati setelah menghadiri sebuah perjamuan makan malam, Multatuli juga muncul, masih dengan kopornya. Dia muncul dan menerangkan bahwa Slotering mati diracun.
Di akhir, Multatuli juga muncul. Dia menegaskan bahwa cerita Max Havelaar serta Saijah dan Adinda adalah kisah mengharukan sekaligus menjemukan. “Betapa mengharukan! Sudah kukatakan bahwa kisah ini akan menjemukan. Mereka telah pergi meninggalkan Badur, sebab rumah-rumah mereka sudah habis dibakar karena selalu terlambat membayar pajak. Dan di Lampung ada peristiwa tragis dimana di sana pemberontak akan ditumpas habis.”
 Kisah ini disebut-sebut sebagai based on true story sekaligus biografis bagi pengarangnya, Multatuli alias Eduard Douwes Dekker. Maka dengan demikian, Max Havelaar sendiri sebenarnya adalah representasi dari pengaranganya (Multatuli). Kisah Max Havelaar ditulis selang beberapa tahun setelah Eduard Douwes Dekker pulang dari Hindia, di sebuah losmen di Belanda. Buku ini diterbitkan di berbagai negara.
Semangat Literasi
Pertunjukan ini menjadi semacam refleksi bagi para mahasiswa STIKes ICsada Bojonegoro terhadap budaya literasi. Ini nampak betul lewat adegan prolog di pertunjukan ini, ada sekelompok muda-mudi yang memegang buku dan pusing dengan apa yang tengah mereka baca. Mereka tak tahan membaca dan malah asyik dengan gadget serta beragam media sosial seperti whatsapp, facebook, smule, dan lain sebagainya.
Buku bagi para anak-anak muda yang alay itu adalah sesuatu yang membosankan dan bikin pusing.
Prolog itu mengantarkan penonton untuk memahami bahwa di tengah beragam produk modernisme yang menawarkan kepraktisan dan gaya hidup yang hedon, buku masih ada dan dibaca. Buku Max Havelaar karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker salah satunya, yang saat ini berusia lebih dari 150 tahun.

Read More →

Binangun dan Ceceran Ingatan tentang Kata

Oleh Mohamad Tohir
BEBERAPA hari yang lalu, saya bertandang ke Binangun. Ya, Binangun. Entah mengapa saya sangat suka menyebutnya Binangun. Bukan pondok, ponpes, atau apalah apalah. Binangun bagi saya adalah kata yang puitis. Seperti kata lainnya; Langitan, Pethuk, Mranggen, Sarang, Kajen, Siguluk Guluk, Paiton, Tanggir, Gomang, dan lain sebagainya. Kata – kata itu sama – sama memiliki semacam kuasa untuk mengalahkan makna – makna lainnya. Paiton bisa saja bermakna banyak hal, tapi ternyata orang segera tahu, Paiton berarti Pesantren Nurul Jadid. Begitu kurang lebih maksud saya.
Entah mengapa saya bahagia sore itu, begitu tahu bahwa kegiatan rutin alumni Pesantren al-Hikmah adalah di Binangun, di rumah Abdul Aziz, kakak teman sekelas saya, Siti Rohmah (Saya selalu memanggilnya Mbak Rohmah, sampai sekarang). Saya lama tak ikut, dan jarang ikut. Dulu saat yang ikut orang – orang tua, saya mencoba untuk mengawali sebagai perwakilan kaum muda. Saya datang bersama Bambang saat itu dan jarang sekali kaum muda yang ikut. Sekarang sudah banyak. Ah, apalah arti tua, muda. Umur tidak selalu tepat dan berhasil mendefinisikannya. Orang boleh berumur 80. Tapi dia memiliki semangat muda yang tak dimiliki seorang yang berumur 23 tahun tetapi pemalas, seperti saya.
Saya datang bersama Bambang Su. Saya jemput dia di Soko. Dia sedang berada di warung minum depan sebuah toko swalayan saat saya jemput, baru saja selesai rapat membahas acara yang bakal digelar esoknya, sebuah pentas seni Karang Taruna. Saat saya jemput, Bambang Su tak membawa pakaian ganti. Dia hanya mengenakan kaos tipis lengan panjang warna kelabu dan trening warna merah dengan dua garis putih di tengah. Ya sudah, mau apa lagi. Kami pun berangkat.
Saya tidak ingin mencatat sesuatu yang besar. Hanya semacam keanehan dan kekaguman saya pada ingatan. Saat melewati jalan di brang etan, sekitar seratus meter sebelum masuk area pesantren sebelah timur, saya meresa baru kemarin melewati jalan itu. Saat melihat bangunan – bangunan baru di beberapa titik di pesantren, saya juga merasakan semua itu tidak berbeda dengan saat saya masih di pesantren dulu. Itu belum kalau saya masuk wakam (singkatan wali kamar. Sebenarnya istilah ini tak tepat, sebab merujuk pada sosok atau orang, bukan tempat atau ruangan. Dulu saya menyebutnya makam).
Sepulang dari kegiatan (ngaji), saya jalan beriringan dengan Maksum (nama aslinya M Thoha Mahsun). Saya tiba – tiba merasa seperti anak kecil. Sambil jalan, kami bicara tentang hal – hal yang bisa dipastikan basa – basi; dia (Maksum) yang bola-bali Palang (Tuban) – Baureno, Aw yang jadi orang penting, OGP, Festival HAM, Faizah yang tinggal di Lamongan, dsb. Maksum bukan sosok yang pintar memang. Tapi saya tahu dia orang yang serius dan penuh komitmen. Kalau tidak, mengapa dia masih menjadi orang kepercayaan Yai hingga saat ini?
Ah, Maksum. Dia adalah orang yang pertama kali saya kenal saat saya tiba di Binangun pada 2000 an lalu. Dia yang mengajari saya banyak hal. Banyak kata baru yang diperkenalkannya pada saya, seperti gendok, nampan, brang etan, ro’an, nggasap, dan lain sebagainya. Saya pertama melihat kerbau, bebek, pohon jeruk juga dengan Maksum, saat jalan – jalan di sore itu, di brang etan.
Apakah itu penting? Penting bagi saya. Entah mengapa saya selalu menyukai segala hal yang sepintas lalu tidak bermakna. Mungkin karena minat saya yang besar pada kajian filsafat postmodern.
Saya tidak mengingat perjumpaan perjumpaan dengan Maksum setelahnya, meskipun masih ada waktu sekitar delapan tahun setelahnya kami saling bersua. Ingatan terakhir tentang Maksum adalah saat dia mengomentari bacaan – bacaan saya saat kelas 3 Aliyah. Saat itu saya lagi gandrung – gandrungnya dengan kajian islam rasional, islam liberal, dan sebagainya, yang tentu saja terasa asing bagi sekitar. Maksum bilang pada saya, bukan pemikirannya yang dipermasalahkannya, tapi dia tidak setuju dengan sikap para tokoh yang buku - bukunya saya baca itu, karena mereka tidak bermadzhab. Saya ingin membantahnya saat itu. Tidak bermadzhab bagaimana? Mereka bermadzhab.... Tapi saya urungkan, Maksum adalah guru saya. Guru yang mengajari saya satu kata yang sebelumnya saya tak tahu itu.
Sebenarnya, kajian Islam semacam itu, tidak asing di lingkungan kami saat itu. Lebih - lebih, banyak buku di perpustakaan MBU yang ditulis atau digarap oleh tokoh – tokoh yang bisa dikatakan liberal. Ada nama – nama yang diagung-agungkan oleh para tokoh Islam liberal seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Quraish Shihab, Jaluddin Rahmat, dan sebagainya. Salah satu buku tebal kumpulan artikel Nurcholish bahkan saya bawa pulang (curi). Judulnya Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern. Itu jadi salah satu buku favorit saya hingga sekarang.
Saya tidak bisa menjelaskan di halaman ini tentang bagaimana kajian Islam semacam itu yang saya maksud. Saya tak lagi memiliki energi untuk membuat semacam pembelaan.
Saat saya berjalan beriringan dengan Maksum malam itu, ingatan – ingatan kecil itu tiba – tiba muncul. Ingatan – ingatan yang membuat saya tersadar bahwa saya masih anak kecil. Hingga sekarang.
Tambangan Satu, 1 Maret 2017


Read More →

Páginas

 

Copyright © Sebatas Menengok | Powered by Blogger | Template by 54BLOGGER | Fixed by Free Blogger Templates